Ancaman terhadap keselamatan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, ternyata lebih besar dari yang kita bayangkan. Baru-baru ini, terungkap bahwa ISIS, kelompok teroris yang dikenal dengan kekejamannya, telah berusaha untuk membunuh al-Assad setidaknya dua kali selama masa konflik berkepanjangan di Suriah. Upaya-upaya pembunuhan ini semakin menegaskan betapa besar ancaman yang dihadapi oleh al-Assad, yang sudah lama menjadi target kelompok ekstremis ini.
Upaya Pertama: Serangan Pada 2015
ISIS pertama kali mencoba membunuh Presiden Suriah pada tahun 2015, saat konflik di Suriah memasuki titik puncaknya. Pada waktu itu, al-Assad tengah berada dalam sebuah konvoi yang sedang melintas di wilayah yang dikenal rawan dengan serangan dari kelompok teroris. Rencana serangan ini cukup terencana dengan matang, tetapi berkat intelijen Suriah yang efektif, upaya pembunuhan ini berhasil digagalkan.
Meski serangan pertama ini gagal, situasi di Suriah semakin tegang. Kegagalan tersebut tidak membuat ISIS berhenti berusaha, justru meningkatkan tekad mereka untuk menyingkirkan al-Assad. Tentu saja, upaya pertama ini menjadi pelajaran berharga bagi pasukan keamanan Suriah yang semakin memperketat pengamanan terhadap presiden mereka.
Upaya Kedua: Serangan Lebih Canggih pada 2017
Tiga tahun setelah serangan pertama, ISIS kembali mencoba membunuh Bashar al-Assad. Kali ini, pada 2017, serangan dilakukan dengan lebih canggih. Kelompok teroris ini menggunakan bahan peledak yang diletakkan di lokasi yang sering dilalui oleh al-Assad. Mereka berharap dapat mengejutkan pengamanan yang sudah semakin ketat di sekitar presiden.
Namun, berkat persiapan yang lebih matang dan sistem keamanan yang lebih baik, upaya kedua ini pun gagal. Pasukan Suriah dengan cepat mengungkap dan mengamankan bahan peledak sebelum serangan terjadi. Keberhasilan ini menunjukkan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi di sekitar presiden, serta strategi defensif yang semakin kuat.
Mengapa ISIS Menargetkan Presiden Suriah?
Keinginan ISIS untuk menyingkirkan Bashar al-Assad adalah bagian dari agenda besar mereka untuk menggulingkan pemerintah Suriah yang didukung oleh Iran dan Rusia. Sejak perang saudara Suriah dimulai pada tahun 2011, al-Assad menjadi pemimpin yang keras dalam menghadapi pemberontakan dan kelompok ekstremis seperti ISIS. Oleh karena itu, ISIS melihat al-Assad sebagai penghalang utama dalam upaya mereka untuk mendirikan kekhalifahan radikal mereka di Timur Tengah.
Mengingat dukungan besar yang didapat al-Assad dari Rusia dan Iran, kelompok teroris seperti ISIS berusaha keras untuk menghilangkan pengaruhnya di Suriah. Jika berhasil, mereka berharap bisa memperoleh kontrol lebih besar atas wilayah Suriah yang sebelumnya dikuasai pemerintah.
Reaksi Internasional: Tantangan yang Semakin Kompleks
Ancaman terhadap Presiden Suriah ini tentunya mengundang perhatian dunia internasional. Meskipun ISIS telah kehilangan banyak wilayah di Suriah dan Irak, mereka tetap menjadi ancaman yang serius. Kejadian ini menunjukkan bahwa meskipun kekuatan teroris berkurang, mereka masih memiliki kemampuan untuk merencanakan dan melaksanakan serangan besar.
Tanggapan internasional pun beragam. Beberapa negara Barat yang mendukung kelompok oposisi Suriah menganggap bahwa jika al-Assad jatuh, itu bisa membuka jalan bagi perubahan positif di Suriah. Di sisi lain, Rusia dan Iran, yang secara aktif mendukung al-Assad, memandang ancaman terhadap presiden Suriah sebagai ancaman terhadap stabilitas di kawasan Timur Tengah. Mereka tetap menganggap al-Assad sebagai sekutu yang penting dalam menghadapi kekuatan Barat dan teroris.
Keamanan dan Stabilitas di Suriah: Masih Penuh Ketidakpastian
Meski al-Assad berhasil bertahan melalui dua upaya pembunuhan, Suriah tetap berada dalam ketidakpastian besar. Negara ini masih dilanda konflik yang berkepanjangan, dengan ISIS dan kelompok pemberontak lainnya terus menciptakan instabilitas. Bahkan dengan dukungan besar dari negara-negara seperti Rusia dan Iran, situasi di Suriah tetap tidak stabil, dan masa depan negara ini tampak penuh dengan ketidakpastian.
Keamanan Presiden Suriah tetap menjadi masalah utama, karena banyak kelompok ekstremis yang ingin menggulingkan pemerintahan al-Assad. Namun, dengan jaringan pengamanan yang kuat dan kewaspadaan yang tinggi, al-Assad terus bertahan meski teror dan ancaman semakin besar.
Kesimpulan: Ancaman Terhadap Presiden Suriah Belum Berakhir
Dua kali upaya pembunuhan terhadap Bashar al-Assad oleh ISIS menunjukkan bahwa meskipun kelompok teroris ini telah kehilangan sebagian besar wilayah mereka, mereka masih memiliki kemampuan dan keinginan untuk menyerang. Keamanan al-Assad tetap menjadi isu krusial dalam konteks konflik Suriah yang terus berlanjut. Meskipun begitu, keberhasilannya dalam menggagalkan dua upaya pembunuhan ini menunjukkan bahwa presiden Suriah, meskipun terancam, tetap memiliki pengamanan yang kuat dan dukungan dari negara besar seperti Rusia dan Iran.
Baca juga : UI Teliti Kasus Tumpahan Minyak PT Vale















